January 16, 2011

Hobi menurutku adalah suatu  aktifitas yang dilakukan secara berkala dalam waktu yang lama dan aktifitas tersebut tentunya sangat kita sukai atau dengan kata lain sebuah aktifitas yang  kita  lakukan dan membuat kita bahagia. Menulis di blog ini juga merupakan salah satu hobi yang membuatku bahagia dan semoga tidak membuat orang lain menderita jika membaca tulisanku he..he…

Tidak terasa ternyata sudah 6 bulan lebih waktu berlalu begitu cepat hmmm……terakhir aku menulis di blogku ini akhir Mei 2010 dan setelah itu vacum sama sekali. Kegiatan tulis menulisku ini (apa bisa dibilang hobi karena dilakukan tidak terus menerus ? :-D ) dimulai sejak awal tahun 2009 (bisa di baca tulisan dengan judul motivasi dari sahabat) kemudian sempat mandeg menjelang akhir tahun 2009, karena aku mempunyai kebiasaan baru yang menyenangkan yaitu mulai menjalin hubungan yang intens dengan beberapa sahabat di kota Makassar ini. Kok silaturahmi dijadikan hobi ? Hobi yang aneh, mungkin itu terlintas di benak semua orang, tapi tidak untukku karena hobi ini aku lakukan tentunya  dengan alasan yang kuat. Pertama aku tergolong orang yang aktif , otakku sudah terprogram selama 17 tahun untuk terus memerintahkan tubuh ini untuk selalu melakukan kegiatan, kalau aku lagi santai itu bisa jadi karena capek atau memang lagi  sakit. Alasan kedua sejak ABG (baca : remaja) aku tergolong kuper (he..he.. julukan yg selalu melekat pada diriku yang pendiam dan pemalu ini, kata orang rumah waktu itu ) jadi dengan bersilaturahmi aku mulai menyembuhkan penyakit kuper yg sudah mendarah daging ditubuhku ini. Alasan ke tiga dalam Islam, bersilaturahmi itu mengandung banyak kebaikan dan sangat dianjurkan, apalagi niatnya hanya karena Allah, kan bisa bernilai ibadah.

Bersilaturahmi merupakan suatu aktivitas baru di waktu luang yang  sangat menyenangkan, mengenal lebih dekat sahabat-sahabat baruku ini,   mengunjungi rumah-rumah mereka dan berkenalan dengan anggota keluarga mereka. Terus terang saja sejak abg (baca : remaja) aktifitas seperti ini sangat jarang aku lakukan, itupun terjadi karena ada tugas kelompok belajar atau keperluan  yang sangat penting. Saat itu aku hanya mempunyai dua macam hobi, Pertama membaca buku dan kedua bermain dan bercanda dengan adik-adikku di rumah. Aku lebih suka ngumpul dengan adik-adikku  yang lucu dan imut ketimbang ikut eskul di sekolah atau main ke rumah teman. Semboyan "rumahku adalah surgaku"  memang berlaku pada saat itu he..he… Bayangkan saja sampe betahnya aku di rumah, almarhum mamaku yang terkenal suka bersosialisasi itu merasa "gerah" melihat anak gadisnya yang sulung seperti katak dalam tempurung. Sampai pernah suatu ketika, saat aku menginjak bangku kelas II SMEA beliau berkata : " Mer, ini mama kasih uang untuk ongkos angkot pergilah main kerumah temenmu yang paling jauh, mama bosan lihat kamu di rumah terus", he..he…bayangkan saja mamaku sampai ngomong begitu, padahal sekolahku itu (SMEA 1) terletak di pusat kota yang nota bene rumahnya teman -teman sekolahku tersebar di seluruh penjuru kota Palembang.

Bukannya aku anti sosial, atau tidak mempunyai teman, tapi memang dulu itu aku tipikal orang rumahan, merasa bahagia dan nyaman tinggal di rumah, berkumpul dan bermain dengan adik-adikku yang masih kecil, lucu dan menggemaskan. Aku tidak merasakan bahwa menjaga dan mengemong adik adalah beban atau tugas yang harus aku pikul sebagai seorang kakak tertua, tapi sungguh itulah kenangan masa remajaku yang paling berkesan dan menyenangkan. Saat ini aku sendiri merasakan bahwa betapa Allah itu begitu hebatnya telah mendesain hatiku sedemikian rupa saat di mana seorang remaja putri yang seharusnya lebih menyukai berkumpul dan menghabiskan banyak waktunya bersama teman-teman mereka diluar rumah, justru lebih suka mendongeng, bermain, bercanda bersama dengan adik-adiknya tercinta. Hobi ini berakhir ketika aku harus merantau ke Jakarta akhir September 1991. Berat sekali harus meninggalkan adik-adikku yang masih sangat kecil-kecil terutama sibungsu yang baru lahir. Aku sempat mengasuhnya tidak lebih dari tiga bulan, rindu kepada mereka semua membuatku menderita hingga berbulan bulan di Jakarta.

Setelah di Jakarta, kegiatan "rumahan"ku sudah hilang sama sekali. Selain tidak punya rumah alias sering pindah-pindah rumah kontrakan ataupun kamar kos, sendirian di rumah merupakan hal yang paling menjemukan. Aku memang menikmati kesendirianku tapi itu terjadi di luar rumah. Selama enam hari kerja kuhabiskan sebagian besar waktuku di kantor, dari pagi hari hingga malam hari, aktifitas di rumah hanyalah tidur dan beres-beres, sedangkan hari minggu adalah saat dimana aku mengisi hari itu dengan hobi terbaruku yaitu "pengajian" itulah aktivitas luar rumah yang kusukai. Hobi baru yang kedua setelah membaca buku. Sejak pukul 6.00 pagi aku memulai aktivitas baruku itu dan mengakhirinya  hingga sore hari, bahkan terkadang waktu magribpun aku masih ada di jalan. Aku mulai mengunjungi masjid- masjid mencari pengajian, terus kususun schedule pengajian di otakku. Aku tidak pernah memilah - milah pengajian, mahzab atau aliran apapun semua aku anggap sama yang penting aku berada di tempat dan waktu yang tepat sesuai schedule. hobiku ini bertahan selama 9 tahun, terhenti  di bulan April tahun 2000 bertepatan dengan aku mendapatkan tempat kerja yang baru. Pada bulan itu juga aku telah menemukan pengajian yang "matching" untukku dan inilah halte terakhir dari semua pengembaraanku di ibu kota yang membawa perubahan hidup yang sangat revolusioner. Akhirnya pengajian tidak lagi menjadi sebuah hobi, tapi sebuah keharusan.

Kembali ke hobi silaturahmi, ternyata juga tidak bertahan lama, karena aku mulai mengalami sakit sejak pertengahan Januari 2010. Sinusitisku kambuh lagi, malah lebih parah, jenisnya sudah multiple sinusitis yang menyebabkan batuk-batuk akut(solusinya, menurut 4 orang dokter di 4 RS yang  berbeda adalah operasi, dengan membuang tulang hidungku yang bengkok, tapi aku tetap bertahan dengan pendirianku utk tidak mengikuti saran mereka) Batuk ini bertahan selama 10 bulan, anehnya batuk itu hilang dengan sendirinya ketika aku mulai serius menekuni hobi baruku yaitu membuat aksesoris di bulan Nopember 2010 lalu, sejak itu pula penyakit berangsur-angsur  sembuh tanpa harus minum obat dan berganti-ganti dokter seperti yang selama ini aku lakukan. Alhamdulillah selama bulan Desember Allah telah membebaskan aku dari penyakit ini.

Hobi meronce ini bermula pada pertengahan Juni 2009, waktu itu aku mengalami jenuh yang luar biasa, karena tidak ada  aktifitas  yang berarti yang bisa aku lakukan karena sakit batukku itu.  Saat itu  ketika melihat koleksi kalung dan gelang (sisa penjualan aksesoris) timbulah ide untuk membongkar susunan manik-maniknya  untuk kemudian dipasang kembali, agar terlihat lebih cantik dari bentuk sebelumnya. Aktiftias ini aku lakukan siang hari setelah selesai sholat zhuhur, selama 3 hari  aku terus meronce dan pada hari ke tiga, seorang ibu rumah tangga-tetangga di komplek perumahan tempatku tinggal- mencari anaknya ke rumah. Karena meronce di ruang tamu, otomatis dia lihat dan ingin membeli kalung yang sudah di ronce, tanpa berfikir panjang aku langsung menjualnya. Kemudian malam harinya si Ibu itu datang lagi ingin membeli kalung yang lain untuk ibunya. Hasil penjualan kalung itu aku belikan manik-manik sebagai bahan untuk meronce lagi. Begitu seterusnya jika ada kalung yang terjual, hasil penjualannya selalu diputar untuk modal membeli bahan baku. Entah sudah berapa banyak kalung yang sudah aku buat, aku sudah tidak bisa mengingatnya lagi hingga pada bulan Nopember tanteku yang di Cimahi (beliau pernah membeli kalung untuk putri remajanya) menelpon dan memesan tujuh buah kalung sekaligus untuk dipasang pada patung manekin ditoko pakaiannya, untuk desain kalungnya beliau menyerahkan sepenuhnya kepadaku.

Sejak pemesanan kalung itu, aku mulai berfikir untuk lebih serius menekuni hobi baruku ini.  Aku tidak pesimis untuk memulai usaha pembuatan aksesoris ini, karena  dengan hobi ini, aku mulai menemukan diriku yang dulu,   sosok pekerja keras yang selalu dipenuhi semangat dan ide, walaupun aku  merasa tidak punya bakat (selama ini aku mengira bahwa kemampuan yang aku mikliki hanyalah kerja di kantoran yang bisanya cuma ngurusi uang dan barang). Tidak sedikitpun aku mempunyai niat untuk mundur dari rencana yang sudah aku buat, walau hobi baru ini di dapat dengan iseng dan otodidak.

Di bulan Nopember itu juga aku memutuskkan untuk menjual aksesoris di dunia maya lewat face book, tanpa teori-teori dan survey pasar akhirnya aku mulai berjualan secara online dengan brand "QUEEN COLLECTIONS". Nama ini pernah kami (saya dan adik-adikku) gunakan untuk usaha toko aksesoris di Palembang pada tahun 2005, namun sayang usaha ini tidak ditekuni secara serius, karena salah seorang adikku lebih memilih usaha makanan. Semoga Allah meridhoi usaha yang mulai kurintis ini, amin… Ya Robbal Alamin.

Posted in Pengalaman Comments (1)


May 31, 2010


Seminggu yang lalu, aku sempat kaget mendengar informasi bahwa Pak Bambang akan dipindah tugaskan ke Telkom Jakarta, bukan hanya isi beritanya yang tiba-tiba tapi juga waktunya begitu mendadak. Tanggal 31 Mei sudah harus meninggalkan tanah Makassar, ternyata bukan hanya aku yang kaget, menurut ceritanya pak Bambang kemarin malam, beliaupun sempat dibuat kaget dengan rencanaNya Allah tersebut, begitu mendadak karena tanggal 1 Juni beliau harus melapor ke Bandung dan keesokan harinya sudah harus bertugas di Jakarta.

Sahabat-sahabat di Makassar secara spontan kemarin malam bertandang ke rumah Pak Bambang untuk melepas kepergian beliau menuju tempat dinas yang baru. Acara perpisahan malam itu sangat berkesan dan begitu mengharukan, terlebih ketika Om Nas membacakan doa khusus untuk pak Bambang, banyak sahabat-sahabat yang matanya berkaca-kaca, bahkan ada beberapa yang menangis.

Sayangnya waktu yang tidak bersahabat karena sudah hampir larut malam jadi hanya Mas Ikbal yang kebagian  kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesannya kepada pak Bambang. Hampir tidak terdengar suaranya waktu berbicara, sepertinya Mas Ikbal merasakan begitu berat berpisah dengan pak Bambang sehingga hanya air matanya yang terlihat menetes turun. Kesedihan Mas Ikbal juga kami rasakan semua, betapa tidak sebentar lagi kami akan kehilangan salah satu mentor terbaik, seorang Bapak yang sangat perhatian dan selalu tulus ikhlas membantu saudara-saudaranya yang butuh pertolongan.

Walaupun tidak mempunyai kesempatan untuk berbicara malam itu, aku yang sangat berhutang budi kepada beliau (semoga Allah membalas amal shalihnya selama ini, amin) masih punya cara untuk mengucapkan terima kasih dan kesan terhadap sosok Bapak yang baik hati ini, ya melalui tulisan inilah aku dapat mengenang kembali kebaikan yang telah aku terima.

Masih kuat dalam ingatanku, peristiwa  yang sangat berkesan, berkenalan dengan sosok pribadi beliau untuk pertama kalinya. Di awal bulan Pebruari 2008, saat Pak Yudha (suamiku) diopname di RS Pelamonia Makassar. Suatu malam setelah 3 hari dirawat, kondisi suamiku turun drastis, dari hasil laboratorium yang keluar malam itu ( pukul 9 malam ) dinyatakan bahwa suami harus segera tranfusi trombosit sebanyak 3 kantong. Waktu terus berjalan dan begitu panjang malam itu aku rasakan, ditengah kecemasanku melihat wajah suamiku semakin lama semakin memucat, aku menekan kebingungan dalam cerita-cerita lucu  untuk menghiburnya. Betapa tidak malam itu cuaca diluar sedang hujan badai disertai petir (bulan itu cuaca benar-benar buruk, waktu berangkat pesawatku sempat didelay 3 jam di Jakarta karena hujan badai di Makassar).

Ketika itu aku belum menetap dan resmi menjadi warga Makassar, sehingga aku benar-benar tidak tahu dimana lokasi PMI berada, disamping itu aku khawatir untuk meninggalkan suamiku seorang diri di RS dalam kondisi yang parah (setiap malam, selama dirawat di RS hanya aku sendiri yang menemani suami). Akhirnya suami menyuruhku untuk minta bantuan salah seorang sahabatnya.

Alhamdulillah, akhirnya sekitar pukul 11 malam,  dengan tergopoh-gopoh pak Bambang datang ke Rumah Sakit mengambil surat pengantar untuk ambil trombosit ke PMI. Kejadiannya begitu cepat, tanpa basa basi beliau minta surat pengantarnya dan langsung pergi, saat itu aku sempat kaget dengan kedatangannya yang tiba-tiba sehingga lupa memberikan uang untuk menebus trombosit. Kemudian aku menunggu pak Bambang datang, tapi mungkin karena kelelahan aku sempat tertidur, aku terbangun saat tengah malam, saat itu seorang perawat sedang memasangkan 1 kantong trombosit ke lengan suamiku. Alhamdulillah akhirnya Pak Yudha telah melewati masa kritisnya.

Keesokan paginya, serombongan sahabat-sahabat kami datang. Hampir semua dari bapak  bapak ini telah mendonorkan darahnya di PMI, ternyata golongan darah suamiku yaitu “A resus positif” tergolong langka sehingga di PMI hanya tersedia 1 kantong, selebihnya didapatkan dari mereka, dan ke 3 kantong trombosit tersebut kami dapatkan dengan gratis. Semoga Allah membalas semua kebaikan dan amal shaleh dari sahabat-sahabat kami ini selama Pak Yudha dirawat di Rumah Sakit, amin.

Pak Bambang, adalah orang yang sangat perhatian, dia begitu peduli dengan keadaanku dan sering menanyakan kondisiku, sering beliau memintaku dan suami berkunjung ke rumahnya untuk membagikan “resep jitu”nya. Alhamdulillah di hari minggu tanggal 22 Pebruari 2009,  akhirnya kupenuhi juga undangan beliau tersebut selain dapat santapan jiwa yang lezat plus makan siang yang enak, aku juga mendapatkan resep agar bias hamil dan pulangnya pun diberi oleh-oleh. Pak Bambang adalah orang pertama di Makassar yang telah memberikan nasehatnya secara pribadi. Insya Allah semua wejangannya akan aku ingat dan terapkan dalam kehidupan ini. Semoga Allah membalas kebaikan hati pak Bambang dan bu Hesti hari itu, amin…..

Malam ini mungkin pak Bambang sudah berada di Bandung. Hanya doa yang bisa kupanjatkan untuk menguatkan langkah-langkah beliau ( seperti doa yang dipanjatkan om Nas kemarin malam) : ” Semoga ”bibit” yang pak Bambang dapatkan di Makassar, Allah tumbuhkan di Jakarta nanti, dimana akarnya menghujam kuat kedalam bumi, pohonnya menjulang kelangit dan buahnya dapat dinikmati semua orang, amin ”. Selamat jalan Pak Bambang semoga Allah melindungi dan menjagamu. Terima kasih atas bantuan dan perhatiannya kepada kami semua selama ini. Mohon dimaafkan atas segala kekhilafan dan kesalahan.

Posted in Pengalaman No Comments »


May 10, 2010


Ya Rabb,

Kedunguanku selalu meliputiku, apakah Engkau dapat memakluminya ?

Hawa Nafsuku terus menerus menggerus kalbu, sudikah Engkau memaafkanku ?

Rasa cinta penuh noda mewarnai hatiku, adakah Engkau cemburu ?

 

Ya Allah,

Hanya satu yang ingin kurasakan, cukup satu saja

Kuingin merasakan nikmatnya menggenggam ”lilinMu” dihari istimewaku

Ya Allah, hanya satu yang ingin kupinta, cukup satu saja

Stempelkan tanda pada airmataku ini bahwa ia hanya mengalir karena syukur

 

Rabbi, terima kasih atas hujan yang Kau curahkan kemarin sore, tetesannya telah

mengamini semua doa-doa suci orang – orang terkasih

menyirami  pengharapan luhur, semoga ia menumbuh subur

membasahi hatiku hingga menggenang dan merendam duka

menghapus bilur bilur biru karena sentuhan dosa lama yang membeku

 

 

 

 

 

Posted in Renungan No Comments »


October 20, 2009

Hari ini, kenangan itu menghampiri, tepat lima tahun yang lalu, mantan pacarku (baca:suami) telah menunjukkan eksistensinya,  aku merasa kagum dengan jubah keberanian yang dia kenakan saat itu. Telah setahun lebih dia menghilang dibawa angin (atau memang Allah sengaja menyimpan sosoknya), dan kemudian hadir pada waktu yang tepat, saat dimana aku telah siap dalam segala hal untuk menyambut kedatangannya.

Walaupun Allah telah mengizinkannya hadir, tetap saja aku merasa gamang untuk membiarkan diriku tenggelam dalam “dunia ketertarikan”. Karena memang sudah terlalu lama aku melepaskan diri hingga terbebas dari dunia itu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, dengan begitu mudah TanganNya membalikkan hatiku. Butuh waktu lima hari, tidak lebih dan tidak kurang, Allah telah membuatku jatuh cinta pada sang calon pasangan jiwaku itu hanya dalam waktu lima hari. Aku heran kemana perginya nalar dan egoku yang bercokol kokoh ? Tak tanggung tanggung rasa cinta yang baru seumur kecambah itu cepat sekali menguasai diri ini.

Tentu saja ada perlawanan dari sisi hatiku yang berbeda, ketika melihat situasi semakin bertambah runyam. Kali ini, dia (sisi lain hatiku) tidak akan membiarkan pengalaman buruk 10 tahun yang lalu terulang lagi, saat dimana aku telah salah mengambil keputusan. Aku yang bodoh ini telah berani menukarkan secawan “Anggur” dengan secangkir rasa iba. Sungguh keputusan yang sangat kusesali seumur hidup, karena hingga saat ini kenikmatan “Anggur” itu tak pernah lagi kurasakan, dahagaku ini begitu panjang dan menyakitkan.

Dilema, sungguh aku berkubang dalam pusaranmu, saat itu hanya doa yang kuatur dalam lembar demi lembar kekhawatiran. Kegalauan yang mencekam, mencengkram fikiran dengan genggamannya yang begitu kuat. Ada kekhawatiran bila rasa ini tidak benar, ada ketakutan jangan-jangan Dia akan marah dan menjauhiku lagi seperti dulu, ada harapan semua orang-orang terkasih, harapan yang  berkumpul dengan pengharapanku, ada doa dan airmata milik almarhum mama yang sangat kukasihi (semoga Allah membalas semua perjuangan dan pengorbanan beliau, amin…) Mereka semua menanti keputusanku. Dilema ini saling berkejaran dengan waktu.

Kegalauanku itu tak berlangsung lama, sejak "perjumpaan" itu, delapan hari kemudian tepatnya tanggal 28 Oktober 2004, aku menerima  sms dari sang mantan pacarku itu. Sebuah doa yang sangat menyentuh, membuat gemetar hatiku hingga galaupun padam oleh air mata haru. Sebaris doanya : “Ampuni hambamu Ya Allah, sungguh aku tak pantas dibandingkan dengan segala KemuliaanMU. Sungguh………aku tak bermaksud merebut cintanya padaMu. Kumencintainya juga karena begitu cintanya aku padaMu. Ampuni kami Ya Allah……..ampuni kefakiran kami…….”

Setelah membaca smsnya itu, akupun membatin “Ya Allah, Engkaulah tujuanku selama ini, aku ridha dengan semua kehendakMu apapun itu, semoga Engkaupun ridha dengan rasa cinta yang baru kurasakan ini, sungguh aku sangat khawatir, aku berharap Engkau akan selalu menjaga dan melindungiku dan tidak menjauhiku seperti dulu lagi”.

(Dalam memori : Rabu, 20 Oktober 2004)

H.R. Bukhari dan Muslim :
”Ada 3 perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman, yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang lain; dia tidak menyukai seseorang kecuali karena Allah; dan dia tidak ingin terjerumus ke dalam kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dilempar kedalam kobaran api neraka”

Posted in Pengalaman No Comments »


August 31, 2009

Alkhamdulillah, hari ini Allah telah menggerakkan hatiku untuk menulis. Setelah sekian lama tidak ada satupun tulisan yang aku hasilkan. Pertanyaan dari adikku dan suami, mengenai kenapa tidak ada lagi tulisan yang baru di blogku ? Membuatku bertanya-tanya sendiri, ada apa denganku hingga bisa mandeg seperti ini ?

Bukannya tidak ada keinginan, tapi sudah kucoba beberapa kali untuk menulis, tetap saja jemariku kaku, tidak bisa menekan tuts-tuts yang ada di keyboard. Akupun berusaha mencari dan membaca teori-teori, tips dan trik untuk menulis yang kudapat dari facebook. Bahkan aku sudah mencoba menginvetaris bahan-bahan yang mungkin bisa dijadikan tulisan. Tetap saja hasilnya nihil. Aku seolah melihat ada satu gulungan besar didalam fikiranku yang terdiri dari benang-benang kusut yang sulit untuk diurai.

Aku berharap dengan membaca tulisanku,  pembaca dapat mengambil manfaat, minimal mendapatkan penghiburan yang bisa membuat tersenyum. Aku tidak ingin membuat waktu yang mereka habiskan menjadi sia-sia. Tapi harapanku itu hanyalah tinggal harapan yang semu. Aku tidak tahu apakah memang tulisanku ini bermanfaat ?

Dengan segala keterbatasan yang aku miliki, aku sangat berharap para pembaca yang membaca tulisanku dapat memberikan kritik, saran, atau ilmu penulisannya atau mungkin sharing pengalamannya dalam menulis. Sehingga dapat terwujud apa yang aku harapkan, yaitu menghasilkan tulisan yang baik dalam cara  atau gaya penulisannya, juga benar dalam kaidah-kaidah penulisan dan yang paling utama memberikan manfaat bagi yang membacanya. Jika teman-teman merasa saran atau kritik tidak memungkinkan ditulis diblog ini, bisa juga secara japri via email ke meryeka@yahoo.com. Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang sudi meluangkan waktunya untuk membantu saya. Semoga Allah memberikan anugrah yang tak terhingga sebagai balasannya, amin………….

Ya Allah, ampuni hamba, jika didalam tulisan – tulisan hamba ada tersimpan rasa yang tidak benar, hamba hanyalah sebuah debu kotor dan hina didalam semesta lafadzMu, amin…………
 

Posted in Aktifitas Comments (3)