Hari ini, kenangan itu menghampiri, tepat lima tahun yang lalu, mantan pacarku (baca:suami) telah menunjukkan eksistensinya, aku merasa kagum dengan jubah keberanian yang dia kenakan saat itu. Telah setahun lebih dia menghilang dibawa angin (atau memang Allah sengaja menyimpan sosoknya), dan kemudian hadir pada waktu yang tepat, saat dimana aku telah siap dalam segala hal untuk menyambut kedatangannya.
Walaupun Allah telah mengizinkannya hadir, tetap saja aku merasa gamang untuk membiarkan diriku tenggelam dalam “dunia ketertarikan”. Karena memang sudah terlalu lama aku melepaskan diri hingga terbebas dari dunia itu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, dengan begitu mudah TanganNya membalikkan hatiku. Butuh waktu lima hari, tidak lebih dan tidak kurang, Allah telah membuatku jatuh cinta pada sang calon pasangan jiwaku itu hanya dalam waktu lima hari. Aku heran kemana perginya nalar dan egoku yang bercokol kokoh ? Tak tanggung tanggung rasa cinta yang baru seumur kecambah itu cepat sekali menguasai diri ini.
Tentu saja ada perlawanan dari sisi hatiku yang berbeda, ketika melihat situasi semakin bertambah runyam. Kali ini, dia (sisi lain hatiku) tidak akan membiarkan pengalaman buruk 10 tahun yang lalu terulang lagi, saat dimana aku telah salah mengambil keputusan. Aku yang bodoh ini telah berani menukarkan secawan “Anggur” dengan secangkir rasa iba. Sungguh keputusan yang sangat kusesali seumur hidup, karena hingga saat ini kenikmatan “Anggur” itu tak pernah lagi kurasakan, dahagaku ini begitu panjang dan menyakitkan.
Dilema, sungguh aku berkubang dalam pusaranmu, saat itu hanya doa yang kuatur dalam lembar demi lembar kekhawatiran. Kegalauan yang mencekam, mencengkram fikiran dengan genggamannya yang begitu kuat. Ada kekhawatiran bila rasa ini tidak benar, ada ketakutan jangan-jangan Dia akan marah dan menjauhiku lagi seperti dulu, ada harapan semua orang-orang terkasih, harapan yang berkumpul dengan pengharapanku, ada doa dan airmata milik almarhum mama yang sangat kukasihi (semoga Allah membalas semua perjuangan dan pengorbanan beliau, amin…) Mereka semua menanti keputusanku. Dilema ini saling berkejaran dengan waktu.
Kegalauanku itu tak berlangsung lama, sejak "perjumpaan" itu, delapan hari kemudian tepatnya tanggal 28 Oktober 2004, aku menerima sms dari sang mantan pacarku itu. Sebuah doa yang sangat menyentuh, membuat gemetar hatiku hingga galaupun padam oleh air mata haru. Sebaris doanya : “Ampuni hambamu Ya Allah, sungguh aku tak pantas dibandingkan dengan segala KemuliaanMU. Sungguh………aku tak bermaksud merebut cintanya padaMu. Kumencintainya juga karena begitu cintanya aku padaMu. Ampuni kami Ya Allah……..ampuni kefakiran kami…….”
Setelah membaca smsnya itu, akupun membatin “Ya Allah, Engkaulah tujuanku selama ini, aku ridha dengan semua kehendakMu apapun itu, semoga Engkaupun ridha dengan rasa cinta yang baru kurasakan ini, sungguh aku sangat khawatir, aku berharap Engkau akan selalu menjaga dan melindungiku dan tidak menjauhiku seperti dulu lagi”.
(Dalam memori : Rabu, 20 Oktober 2004)
H.R. Bukhari dan Muslim :
”Ada 3 perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman, yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang lain; dia tidak menyukai seseorang kecuali karena Allah; dan dia tidak ingin terjerumus ke dalam kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dilempar kedalam kobaran api neraka”
Alkhamdulillah, hari ini Allah telah menggerakkan hatiku untuk menulis. Setelah sekian lama tidak ada satupun tulisan yang aku hasilkan. Pertanyaan dari adikku dan suami, mengenai kenapa tidak ada lagi tulisan yang baru di blogku ? Membuatku bertanya-tanya sendiri, ada apa denganku hingga bisa mandeg seperti ini ?
Bukannya tidak ada keinginan, tapi sudah kucoba beberapa kali untuk menulis, tetap saja jemariku kaku, tidak bisa menekan tuts-tuts yang ada di keyboard. Akupun berusaha mencari dan membaca teori-teori, tips dan trik untuk menulis yang kudapat dari facebook. Bahkan aku sudah mencoba menginvetaris bahan-bahan yang mungkin bisa dijadikan tulisan. Tetap saja hasilnya nihil. Aku seolah melihat ada satu gulungan besar didalam fikiranku yang terdiri dari benang-benang kusut yang sulit untuk diurai.
Aku berharap dengan membaca tulisanku, pembaca dapat mengambil manfaat, minimal mendapatkan penghiburan yang bisa membuat tersenyum. Aku tidak ingin membuat waktu yang mereka habiskan menjadi sia-sia. Tapi harapanku itu hanyalah tinggal harapan yang semu. Aku tidak tahu apakah memang tulisanku ini bermanfaat ?
Dengan segala keterbatasan yang aku miliki, aku sangat berharap para pembaca yang membaca tulisanku dapat memberikan kritik, saran, atau ilmu penulisannya atau mungkin sharing pengalamannya dalam menulis. Sehingga dapat terwujud apa yang aku harapkan, yaitu menghasilkan tulisan yang baik dalam cara atau gaya penulisannya, juga benar dalam kaidah-kaidah penulisan dan yang paling utama memberikan manfaat bagi yang membacanya. Jika teman-teman merasa saran atau kritik tidak memungkinkan ditulis diblog ini, bisa juga secara japri via email ke meryeka@yahoo.com. Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang sudi meluangkan waktunya untuk membantu saya. Semoga Allah memberikan anugrah yang tak terhingga sebagai balasannya, amin………….
Ya Allah, ampuni hamba, jika didalam tulisan – tulisan hamba ada tersimpan rasa yang tidak benar, hamba hanyalah sebuah debu kotor dan hina didalam semesta lafadzMu, amin…………
Jumat, 20 Maret 2009, di siang hari yang terik aku mengawali langkah kaki menuju Bandara Sultan Hasanuddin dengan doa dan pengharapan, semoga perjalananku ini dilindungi dan dirahmati Sang Maha Pengasih. Ada sedikit kekhawatiran menyelinap dalam hati, dan aku tahu rasa khawatir tersebut tidak pada tempatnya.
Bermula dari mimpi yang kualami tidak lama berselang sebelum perjalanan ini, mimpi yang aneh dan seperti nyata, hampir saja kaki ini akan beranjak dari tempat tidur jika tidak karena kesadaranku yang mulai pulih dan menyuruhku untuk berbaring kembali. Aku terbangun karena dipanggil oleh mama mertuaku (dalam mimpi), beliau bilang bahwa diruang tamu telah berkumpul keluarga besarku, dan sangat jelas kudengar mereka bicara satu sama lain, begitu gaduhnya. Aku mengenali ada suaranya papa, nenek, adik-adikku, om dan tante. masih dalam kondisi yang sangat mengantuk, aku berusaha berfikir dalam kegelapan malam (lampu dalam kamar memang biasa dipadamkan jika waktunya tidur), masak iya dini hari begini mereka semua datang ? Tapi suara-suara itu tidak berbohong aku mendengarnya dengan jelas. Lama-lama suara merekapun menghilang ditelan kesunyian malam.
Keesokan paginya, aku menceritakan kejadian tersebut kepada daeng, kemudian aku menghubung-hubungkannya dengan percakapan via telepon dengan adik dan nenekku yang sudah lama berlalu dan selalu mengganggu fikiranku. Apa ada peristiwa yang buruk yang terjadi dengan papa di Palembang dan nenek di Jakarta ya? Menurut informasi adikku papa saat ini sering sakit-sakitan, kemudian percakapan dengan nenek terakhir kali, beliau meminta maaf sambil menangis karena merasa “waktu”nya sudah dekat. (Memang sejak terjadi insiden kecil yang menimpa nenek-jatuh dikamar mandi dan kemudian jatuh dari kursi- kondisi beliau turun drastis)
Tidak lama berselang, sepulangnya dari kantor, Daeng menyodorkan sebuah amplop dan aku sangat terkejut karena ternyata isinya adalah tiket pesawat ke Jakarta. Aku sungguh sangat tidak mengerti apa yang ada dalam fikiran suamiku ini sampai beliau sudi membelikan tiket pesawat untukku. Menurut penuturan Daeng bahwa, kesadarannya tidak dalam kondisi “penuh” saat membeli tiket tersebut. Ketika dalam perjalanan dari kantor menuju rumah, seolah ada yangmenuntun hatinya untuk membelokkan arah motor menuju agen travel. Aku hanya terharu mendengar penuturannya itu, sungguh Daeng bukan saja suami yang memiliki toleransi yang tinggi, tapi dia juga memahami kondisi psikologis diriku. Bisa dibilang aku memang agak tertutup, dan sulit untuk menceritakan perasaan apabila sedang dilanda depresi.
Menurut Daeng lagi, ada sesuatu yang akan terjadi yang akan kujumpai “disana” dan sesuatu itu akan butuh pengorbanan yang besar. Aku mengejarnya dengan pertanyaan yg berkecamuk, “Pengorbanan apa ?” Apa ada hubungannya dengan nenek ? Dijawab daeng lagi, Saya tidak tahu pengorbanan dalam bentuk apa, yang jelas tidak ada hubungannya dengan nenek, nenek di Jakarta sepertinya baik-baik saja. Dan memang akhirnya terbukti, bahwa memang nenekku tidak dalam kondisi mengkhawatirkan, walaupun beliau masih dalam keadaan sakit.
Saat ini ketika sudah kembali dari “perjalanan singkat”ku itu (Jakarta, Bandung, Garut, Palembang) banyak sekali pembelajaran yang kuterima. Saat dimana aku mengalami lagi pengalaman menjadi seorang kakak, cucu, keponakan, sepupu, anak dan ibu bagi sibungsu. Juga perjumpaan dengan teman-teman salik, teman SMP, teman SMEA, teman kerja waktu masih ngantor. Terutama pertemuan dengan mursyidku tercinta dan juga guru spiritualku di Garut. Kemudian kembali lagi ke Makassar untuk menjalani realita, menjalani peran sebagai istri, menantu, adik ipar dan kakak ipar. Semoga pembelajaran yang kuterima ini dapat memperkaya aku yang miskin ilmu, amin……
Setelah mencoba untuk “bemetamorfosis” walau gagal, aku menyadari bahwa memang banyak sekali peristiwa yang terjadi dan wajib kusyukuri, semua yang Allah hadirkan itu tidak sebanding dengan semua pengorbananku selama ini. Akupun sangat berterima kasih padaNya, karena melalui ucapan Daeng, sebuah puzzle dari sekian banyak puzzleku telah kutemukan. Beberapa hari yang lalu sempat kukabarkan pada Daeng mengenai hasil perenunganku ini bermula dari ucapannya saat memberikan tiket pesawat tempo hari. Dan dia bilang bahwa dia tidak ingat dan tidak pernah merasa mengatakan hal seperti itu. Ya biar saja, mungkin dia sudah lupa, tapi yang jelas aku sudah sedikit mengerti apa yang telah dihadirkanNya.
Apakah bisa dibilang keberuntungan kalau aku dikelilingi oleh orang-orang yang humoris ? Karena aku tipikal orang yang selalu serius dan tidak bisa membuat orang lain tertawa, keberadaan mereka didekatku membuat aku tidak terlalu tenggelam di dalam keseriusanku. Aku sering berusaha untuk membuat lelucon tetapi kenyataannya yang tersenyum mendengar leluconku itu ya aku sendiri, aku merasa geli karena mereka yang mendengar leluconku tidak mengerti dimana letak kelucuannnya, seperti yang adikku Rudi pernah bilang, mungkin frekuensinya beda, atau memang ceritaku benar-benar tidak lucu ? Entahlah, yang jelas aku memang bukanlah orang yang humoris. Aku sendiri heran mengapa aku bisa jadi orang yang terlalu serius seperti ini bahkan bisa dibilang aku termasuk orang yang kaku.
Orang humoris pertama dalam keluargaku adalah papa, beliau jago bikin guyonan. Dulu waktu aku masih remaja aku sering menyaksikan peristiwa lucu, kalau almarhumah mama mulai ngambek, papaku pasti akan menggodanya sampai mamaku tertawa. Pernah waktu jalan berdua dengan papa, kami bertemu bekas teman SMAnya yang sudah terlihat sangat tua, dia menanyakan ke papaku, apa resep yang membuat papaku awet muda, katanya lagi raut wajah papaku tidak berubah, sama dengan ketika waktu di SMA. Dan papaku dengan entengnya menjawab : ”Banyakin anak dan jangan banyak pikiran”. Itulah papaku mungkin karena suka melucu makanya jadi awet muda. Pernah teman-teman SMAku bertamu kerumah, dan mereka semua mengira bahwa papaku adalah abangku ( He..he.. lucu sekali kejadiannya waktu itu, cuma sayangnya sejak kepergian mama, papa cepat sekali terlihat tua dan selera humornya juga sudah berkurang)
Orang-orang humoris yang kedua, adalah adik-adikku. Bakat ”ngelawak”nya papa turun kesebagian besar adik-adikku, yaitu Rudi, Epi, Deny, Rio dan Ferdi. Sisanya yang 4 orang bisanya hanya tertawa dan tidak berbakat melucu alias garing (kate orang betawi), mereka itu adalah Beni, Heni, sibungsu Rahmat dan tentunya aku sendiri, sebagai kakak tertua dari sembilan bersaudara. Biasanya jika keluarga besar kami berkumpul yang akan terdengar adalah suara tawa yang berkepanjangan. Ada saja bahan pembicaraan yang bisa dibuat lucu oleh adik-adikku. Terlihat jelas perbedaannya pada diriku, aku akan selalu tertawa ceria jika berkumpul bersama adik-adikku yang suka ngebanyol itu, daripada jika aku sendirian di kost.
Orang humoris ketiga adalah Daeng. Sebelum menikah, tadinya aku mengira calon suamiku sama seriusnya dengan diriku, tapi ternyata dia juga seorang pelawak amatiran. Bukannya aku mau memamerkan suamiku yang baik hati ini, tapi kenyataannya dia memang suami yang lucu dan menyenangkan. Dulu ketika masih kerja, aku sering kelelahan setiap pulang dari kantor atau sakit kepala karena stress akibat kerjaan kantor yang seabreg-abreg. Cape dan sakit kepala akan sirna manakala melihat ekspresi wajah atau tingkah lakunya Daeng yang sengaja dibuat lucu, kemudian akan diteruskan dengan guyonannya sampai aku tertawa.
Orang-orang humoris yang keempat yaitu sahabat-sahabatku di Makassar. Kalau sudah ngumpul, mereka ternyata suka bikin dagelan. Aku sering tersenyum geli jika mendengar mereka bercanda apalagi obrolan-obrolan ringan mereka selalu mengundang tawa. Perbedaan kultur dan bahasa tidak menjadi penghalang bagiku dalam beradaptasi, karena menurutku tipikal orang Makassar hampir sama dengan orang Palembang, mereka lugas, apa adanya dan memang pada dasarnya suka bercanda. Mudah-mudahan aku bisa meniru mereka mengisi hari-hari dengan penuh keceriaan.
Ketika ”dokter ahli” menyuruhku untuk melepas kawat gigi yang kukenakan, aku tidak melakukan apa yang disarankan beliau. Aku tidak ingin menanggalkannya karena belum ada 1 (satu) tahun kugunakan, ”kan sayang gigiku belum begitu rapi” pikirku setelah itu. Beberapa hari berselang aku mulai diserang sakit yang luar biasa, dan rasanya lebih dahsyat dibandingkan rasa sakit ketika aku menderita sinusitis (Tahun 1998). Rasa sakit akibat sinusitis terjadi sebelum dokter mengambil cairan dari sinusku waktu itu menurut dokter lubang hidungku terlalu sempit sehingga tidak bisa dimasukin selang, makanya tulang hidungku harus dibuat ”mekar”. Karena pemekaran tersebut aku mengalami perdarahan seharian, darah terus mengalir dari lubang hidung dan naasnya lagi tidak ada yang bisa menolongku karena masih sendiri belum ditemani adik-adikku.
Nah..rasa sakit yang disebabkan kawat gigi ini lebih parah daripada sakit ketika tulang hidungku dipaksa mekar dan kejadiannya bisa terus berulang-ulang, dia menjalar mulai dari gigi atas naik kepipi terus kemata kemudian berjalan disepanjang batok kepalaku sampai urat-urat yang ada di dahi menonjol keluar. Setelah itu baru deh nyadar untuk melepas keberadaan sang kawat, tapi ternyata dokternya yang tidak rela karena hasilnya belum maksimal. Sebulan kemudian, setelah harus 3 (tiga) kali bolak balik memelas, barulah ia merasa kasihan dan ikhlas melepas kepergian hasil karyanya.
Ada dosa yang pernah kulakukan pada Daeng, dan selalu dimaafkan bila aku memohon padanya. Disela-sela sakit karena kawat gigi sering terjadi peristiwa bodoh yang kulakukan, sebenarnya aku malu menceritakannya, tapi aku berharap jangan sampai ada lagi istri-istri yang durhaka pada suami dan mendramatisir rasa sakitnya. Jika sakit itu mulai menyerang aku akan mengaduh-aduh sambil menangis, maka Daeng akan bilang : ”Berterima dek, berterima. Diterima sakitnya ya sayang”. Aku dengan rasa sakitku hanya bisa memelototi suamiku tanpa bisa bicara, karena menahan sakit. Aku kesal karena dia sering bilang seperti itu. Atau pernah juga dia menyarankan supaya aku tidak bilang ”Aduh” tapi ”Duhai”. Bukannya berterima kasih diberi saran seperti itu, aku malah bersungut-sungut, pikirku sarannya tersebut sungguh tidak efektif, mana bisa kata ”Duhai” meringankan sakit yang kuderita. Benar-benar tindakan yang memalukan, seharusnya aku menuruti apa yang disarankan Daeng. ” Duhai… sang pemilik raga gerangan apa yang kau inginkan dari penyakit ini ” mungkin itulah kira-kira apa yang dimaksud Daeng.
Al Baqarah : 155-156” Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang bila ditimpa muibah mereka mengucapkan ”Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun”