Tak terasa kepergian babe (panggilan untuk ayah mertuaku) sudah seminggu berlalu, sejak tgl 5 Pebruari lalu beliau -seorang TNI AD- dipindah tugaskan ke Sulawesi Tenggara, Menurut kabar yang kuterima tadi pagi babe akan bertugas di Kendari selama lebih kurang 2 tahun.
Selama 6 bulan ini, aku mengenal babe sebagai orang yang mempunyai pengendalian emosi yang luar biasa, dan aku pikir hanya beliaulah sosok yang paling “tenang” dalam keluarga besarku. Ketenangan beliau dalam menghadapi setiap masalah patut diacungi jempol. Selama ini aku tidak pernah melihat beliau dalam kondisi panik atau cemas, baik itu dari ekspresi wajah ataupun dari ucapannya. Setidaknya aku melihat sikap beliau dalam menghadapi kejadian dimana 2 orang adik iparku secara bergantian diopname di Rumah Sakit.
Kusadari bahwa salah satu sifat burukku adalah sering kali cepat panik jika terjadi suatu peristiwa luar biasa, dan keterpanikanku itu sangat berlebihan. Satu contoh nyata saat terjadi peristiwa di suatu pagi, dimana papaku jatuh dari tangga, Ketika itu aku panik luar biasa melihat kepala papa yang berlumuran darah, sehingga aku lupa kalau sedang hamil. Entah karena kaget atau sibuk berlari-lari di Rumah Sakit, sorenya aku keguguran.
Seharusnya aku dapat meneladani pribadi beliau tersebut dalam kehidupanku, semestinya aku mencoba untuk dapat bersikap tenang apapun peristiwa yang dihadirkan.
Semoga Allah menjadikan ketenangan sebagai perhiasan pribadiku, amin……
Comments »