March 18, 2009

Apakah bisa dibilang keberuntungan kalau aku  dikelilingi oleh orang-orang yang humoris ? Karena aku tipikal orang yang selalu serius dan tidak bisa membuat orang lain tertawa, keberadaan mereka didekatku membuat aku tidak terlalu tenggelam di dalam keseriusanku. Aku sering berusaha untuk membuat lelucon tetapi kenyataannya yang tersenyum mendengar leluconku itu ya aku sendiri, aku merasa geli karena mereka yang mendengar leluconku tidak mengerti dimana letak kelucuannnya, seperti yang adikku Rudi pernah bilang, mungkin  frekuensinya beda, atau memang ceritaku benar-benar tidak lucu ? Entahlah, yang jelas aku memang bukanlah orang yang humoris. Aku sendiri heran mengapa aku bisa jadi orang yang terlalu serius seperti ini bahkan bisa dibilang aku termasuk orang yang kaku.

Orang humoris pertama dalam keluargaku adalah papa, beliau jago bikin guyonan. Dulu waktu aku masih remaja aku sering menyaksikan peristiwa lucu, kalau almarhumah mama mulai ngambek, papaku pasti akan menggodanya sampai mamaku tertawa. Pernah waktu jalan berdua dengan papa, kami bertemu bekas teman SMAnya yang sudah terlihat sangat tua, dia menanyakan ke papaku, apa resep yang membuat papaku awet muda, katanya lagi raut wajah papaku tidak berubah, sama dengan ketika waktu di SMA. Dan papaku dengan entengnya menjawab : ”Banyakin anak dan jangan banyak pikiran”. Itulah papaku mungkin karena suka melucu makanya jadi awet muda. Pernah teman-teman SMAku bertamu kerumah, dan mereka semua mengira bahwa papaku adalah abangku ( He..he.. lucu sekali kejadiannya waktu itu, cuma sayangnya sejak kepergian mama, papa cepat sekali terlihat tua dan selera humornya juga sudah berkurang)

Orang-orang humoris yang kedua, adalah adik-adikku. Bakat ”ngelawak”nya papa turun kesebagian besar adik-adikku, yaitu Rudi, Epi, Deny, Rio dan Ferdi. Sisanya yang  4 orang  bisanya hanya tertawa dan tidak berbakat melucu alias garing (kate orang betawi), mereka itu adalah Beni, Heni, sibungsu Rahmat dan tentunya aku sendiri, sebagai kakak tertua dari sembilan bersaudara. Biasanya jika keluarga besar kami berkumpul yang akan terdengar adalah suara tawa yang berkepanjangan. Ada saja bahan pembicaraan yang bisa dibuat lucu oleh adik-adikku. Terlihat jelas perbedaannya pada diriku, aku akan selalu tertawa ceria jika berkumpul bersama adik-adikku yang suka ngebanyol itu, daripada jika aku sendirian di kost.

Orang humoris ketiga adalah Daeng. Sebelum menikah, tadinya aku mengira calon suamiku sama seriusnya dengan diriku, tapi ternyata dia juga seorang pelawak amatiran. Bukannya aku mau memamerkan suamiku yang baik hati ini, tapi kenyataannya dia memang suami yang lucu dan menyenangkan. Dulu ketika masih kerja, aku sering kelelahan setiap pulang dari kantor atau sakit kepala karena stress akibat kerjaan kantor yang seabreg-abreg. Cape dan sakit kepala akan sirna manakala melihat ekspresi wajah atau tingkah lakunya Daeng yang sengaja dibuat lucu, kemudian akan diteruskan dengan guyonannya sampai aku tertawa.

Orang-orang humoris yang keempat yaitu sahabat-sahabatku di Makassar. Kalau sudah ngumpul, mereka ternyata suka bikin dagelan. Aku sering tersenyum geli jika mendengar mereka bercanda apalagi obrolan-obrolan ringan mereka selalu mengundang tawa. Perbedaan kultur dan bahasa tidak menjadi penghalang bagiku dalam beradaptasi, karena menurutku tipikal orang Makassar hampir sama dengan orang Palembang, mereka lugas, apa adanya dan memang pada dasarnya suka bercanda.  Mudah-mudahan aku bisa meniru mereka mengisi hari-hari dengan penuh keceriaan.

Posted in Pengalaman Comments (5)


March 17, 2009

Ketika ”dokter ahli” menyuruhku untuk melepas kawat gigi yang kukenakan, aku tidak melakukan apa yang disarankan beliau. Aku tidak ingin menanggalkannya karena belum ada 1 (satu) tahun kugunakan, ”kan sayang gigiku belum begitu rapi” pikirku setelah itu. Beberapa hari berselang aku mulai diserang sakit yang luar biasa, dan rasanya lebih dahsyat dibandingkan rasa sakit ketika aku menderita sinusitis (Tahun 1998). Rasa sakit akibat sinusitis terjadi sebelum dokter mengambil cairan dari sinusku waktu itu menurut dokter lubang hidungku terlalu sempit sehingga tidak bisa dimasukin selang, makanya tulang hidungku harus dibuat ”mekar”. Karena pemekaran tersebut aku mengalami perdarahan seharian, darah terus mengalir dari lubang hidung dan naasnya lagi tidak ada yang bisa menolongku karena masih sendiri belum ditemani adik-adikku.

Nah..rasa sakit yang disebabkan kawat gigi ini lebih parah daripada sakit ketika tulang hidungku dipaksa mekar dan kejadiannya bisa terus berulang-ulang, dia menjalar mulai dari gigi atas naik kepipi terus kemata kemudian berjalan disepanjang batok kepalaku sampai urat-urat yang ada di dahi menonjol keluar. Setelah itu baru deh nyadar untuk melepas keberadaan sang kawat, tapi ternyata dokternya yang tidak rela karena hasilnya belum maksimal. Sebulan kemudian, setelah harus 3 (tiga) kali bolak balik memelas, barulah ia merasa kasihan dan ikhlas melepas kepergian hasil karyanya.

Ada dosa yang pernah kulakukan pada Daeng, dan selalu dimaafkan bila aku memohon padanya. Disela-sela sakit karena kawat gigi sering terjadi peristiwa bodoh yang kulakukan, sebenarnya aku malu menceritakannya, tapi aku berharap jangan sampai ada lagi istri-istri yang durhaka pada suami dan mendramatisir rasa sakitnya.  Jika sakit itu mulai menyerang aku akan mengaduh-aduh sambil menangis, maka Daeng akan bilang : ”Berterima dek, berterima. Diterima sakitnya ya sayang”. Aku dengan rasa sakitku hanya bisa memelototi suamiku tanpa bisa bicara, karena menahan sakit. Aku kesal karena dia sering bilang seperti itu. Atau pernah juga dia menyarankan supaya aku tidak bilang ”Aduh” tapi ”Duhai”. Bukannya berterima kasih diberi saran seperti itu, aku malah bersungut-sungut, pikirku sarannya tersebut sungguh tidak efektif, mana bisa kata ”Duhai” meringankan sakit yang kuderita. Benar-benar tindakan yang memalukan, seharusnya aku menuruti apa yang disarankan Daeng. ” Duhai… sang pemilik raga gerangan apa yang kau inginkan dari penyakit ini ” mungkin itulah kira-kira apa yang dimaksud Daeng.

 Al Baqarah : 155-156

 

” Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang bila ditimpa muibah mereka mengucapkan ”Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Posted in Pengalaman No Comments »


Akhirnya kusadari, bahwa Allah tidak sekedar memerintahkan hambaNya untuk bersabar, bahwa salik itu tidak hanya bermain diseputar ”rasa” tapi lebih hakiki dari pada itu, yaitu ”penyikapan”. Jika aku bisa menyikapi persoalan yang Allah hadirkan, maka rasa sabar akan datang tanpa perlu diundang.
Hari ini aku yang bodoh dan faqir ini mulai belajar untuk “berterima” (istilahnya Daeng)  apa yang Allah hadirkan. Lucunya butuh waktu yang begitu lama untuk bisa memahami “segitiga persoalan” (yang dulu pernah diajarkan Mas Herman). Selama ini aku hanya sekedar tahu dan tidak pernah benar-benar memahami maknanya secara utuh. Semoga Allah selalu membimbingku agar pemahaman yang baru kudapatkan ini bisa langgeng dan dapat terus kuimplementasikan, amin………..
Lagi-lagi aku terus merasa sangat bersyukur, Allah telah memberikanku seorang suami yang begitu sangat sabar dan pengertian dalam mendidik istrinya yang bengal ini. Terkadang Daeng berperan sebagai ”penasihat spiritual” dalam hari-hari yang kulewati bersamanya. Dia akan menguatkanku bila aku lemah dan mengingatkanku bila aku khilaf.

Posted in Renungan Comments (3)


March 15, 2009

Berkumpul dan bercengkrama bersama sahabat-sahabat sangat menyenangkan, karena aku bisa tersenyum atau tertawa bila mendengar guyonan atau dialog-dialog ringan yang dilontarkan oleh mereka. Dan mungkin itu salah satu cara menghilangkan gundah yang melanda hati, cukup dengan memandang  wajah-wajah mereka yang berseri-seri itu sudah sangat menentramkan. Aku sangat bersyukur mempunyai sahabat-sahabat sejati, mereka adalah orang-orang yang tulus dan tanpa pamrih.
Allah sering menghadirkan banyak keberkahan disetiap pertemuan dengan mereka. Sehingga berkumpul dan berdialog dengan sahabat-sahabatku saat ini merupakan kebutuhan jiwa.
Dipertemuan hari ini,  aku mendapatkan hikmah yang luar biasa manakala seorang sahabat berkata bahwa, ”Sabar itu mengundang pertolongan Allah”. Aku seringkali mendengar ataupun membaca pernyataan tersebut, tapi baru kali ini statement tersebut membekas dan memberi kesadaran baru.

Baru kusadari bahwa ternyata aku termasuk kedalam golongan orang yang belum sabar. Dan ternyata pula baru pada tahap menyadari bahwa aku bukanlah orang yang sabar, Allah telah berkenan memberikan pertolonganNya.

Semoga Allah senantiasa membuatku dahaga untuk meminum ”air” yang diturunkan ditengah-tengah pertemuan dengan sahabat-sahabatku, amin…

Posted in Pengalaman No Comments »


Tadi siang, seorang sahabat bertanya, ”apakah ada tulisan yang baru lagi di metamorfosis” terus terang aku kaget mendengarnya, tak disangka bahwa ada juga sahabat di Makassar yang membaca blogku yang baru seumur jagung ini. Tadinya aku tidak punya keberanian untuk menulis, karena memang aku merasa tidak berbakat menulis dan tidak punya ilmu ataupun pengalaman dalam dunia tulis menulis. Keinginan menulis muncul setelah beberapa bulan aku ”pensiun”. Bermula ketika seorang sahabat yang tinggal di Bogor menelponku dan menyarankan agar aku menulis pengalamanku setiap hari di komputer, tapi waktu itu masih bingung mau nulis apa.

Akhirnya baru awal tahun ini keberanian untuk menulis itu muncul, dan itupun hanya sebatas menulis pengalaman pribadi. Entah mengapa, pertanyaan sahabatku tadi siang memacu semangaku sehingga keinginan untuk menulis yang tadinya mulai menguap, hadir kembali. Terima kasih ya mbak telah memberiku semangat baru, semoga Allah membalas kebaikanmu, amin….

Posted in Pengalaman No Comments »