March 17, 2009

Ketika ”dokter ahli” menyuruhku untuk melepas kawat gigi yang kukenakan, aku tidak melakukan apa yang disarankan beliau. Aku tidak ingin menanggalkannya karena belum ada 1 (satu) tahun kugunakan, ”kan sayang gigiku belum begitu rapi” pikirku setelah itu. Beberapa hari berselang aku mulai diserang sakit yang luar biasa, dan rasanya lebih dahsyat dibandingkan rasa sakit ketika aku menderita sinusitis (Tahun 1998). Rasa sakit akibat sinusitis terjadi sebelum dokter mengambil cairan dari sinusku waktu itu menurut dokter lubang hidungku terlalu sempit sehingga tidak bisa dimasukin selang, makanya tulang hidungku harus dibuat ”mekar”. Karena pemekaran tersebut aku mengalami perdarahan seharian, darah terus mengalir dari lubang hidung dan naasnya lagi tidak ada yang bisa menolongku karena masih sendiri belum ditemani adik-adikku.

Nah..rasa sakit yang disebabkan kawat gigi ini lebih parah daripada sakit ketika tulang hidungku dipaksa mekar dan kejadiannya bisa terus berulang-ulang, dia menjalar mulai dari gigi atas naik kepipi terus kemata kemudian berjalan disepanjang batok kepalaku sampai urat-urat yang ada di dahi menonjol keluar. Setelah itu baru deh nyadar untuk melepas keberadaan sang kawat, tapi ternyata dokternya yang tidak rela karena hasilnya belum maksimal. Sebulan kemudian, setelah harus 3 (tiga) kali bolak balik memelas, barulah ia merasa kasihan dan ikhlas melepas kepergian hasil karyanya.

Ada dosa yang pernah kulakukan pada Daeng, dan selalu dimaafkan bila aku memohon padanya. Disela-sela sakit karena kawat gigi sering terjadi peristiwa bodoh yang kulakukan, sebenarnya aku malu menceritakannya, tapi aku berharap jangan sampai ada lagi istri-istri yang durhaka pada suami dan mendramatisir rasa sakitnya.  Jika sakit itu mulai menyerang aku akan mengaduh-aduh sambil menangis, maka Daeng akan bilang : ”Berterima dek, berterima. Diterima sakitnya ya sayang”. Aku dengan rasa sakitku hanya bisa memelototi suamiku tanpa bisa bicara, karena menahan sakit. Aku kesal karena dia sering bilang seperti itu. Atau pernah juga dia menyarankan supaya aku tidak bilang ”Aduh” tapi ”Duhai”. Bukannya berterima kasih diberi saran seperti itu, aku malah bersungut-sungut, pikirku sarannya tersebut sungguh tidak efektif, mana bisa kata ”Duhai” meringankan sakit yang kuderita. Benar-benar tindakan yang memalukan, seharusnya aku menuruti apa yang disarankan Daeng. ” Duhai… sang pemilik raga gerangan apa yang kau inginkan dari penyakit ini ” mungkin itulah kira-kira apa yang dimaksud Daeng.

 Al Baqarah : 155-156

 

” Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang bila ditimpa muibah mereka mengucapkan ”Innalillahi wa inna ilaihi raaji’uun”

Posted in Pengalaman


Comments »

Silahkan untuk memberi tanggapan