Apakah bisa dibilang keberuntungan kalau aku dikelilingi oleh orang-orang yang humoris ? Karena aku tipikal orang yang selalu serius dan tidak bisa membuat orang lain tertawa, keberadaan mereka didekatku membuat aku tidak terlalu tenggelam di dalam keseriusanku. Aku sering berusaha untuk membuat lelucon tetapi kenyataannya yang tersenyum mendengar leluconku itu ya aku sendiri, aku merasa geli karena mereka yang mendengar leluconku tidak mengerti dimana letak kelucuannnya, seperti yang adikku Rudi pernah bilang, mungkin frekuensinya beda, atau memang ceritaku benar-benar tidak lucu ? Entahlah, yang jelas aku memang bukanlah orang yang humoris. Aku sendiri heran mengapa aku bisa jadi orang yang terlalu serius seperti ini bahkan bisa dibilang aku termasuk orang yang kaku.
Orang humoris pertama dalam keluargaku adalah papa, beliau jago bikin guyonan. Dulu waktu aku masih remaja aku sering menyaksikan peristiwa lucu, kalau almarhumah mama mulai ngambek, papaku pasti akan menggodanya sampai mamaku tertawa. Pernah waktu jalan berdua dengan papa, kami bertemu bekas teman SMAnya yang sudah terlihat sangat tua, dia menanyakan ke papaku, apa resep yang membuat papaku awet muda, katanya lagi raut wajah papaku tidak berubah, sama dengan ketika waktu di SMA. Dan papaku dengan entengnya menjawab : ”Banyakin anak dan jangan banyak pikiran”. Itulah papaku mungkin karena suka melucu makanya jadi awet muda. Pernah teman-teman SMAku bertamu kerumah, dan mereka semua mengira bahwa papaku adalah abangku ( He..he.. lucu sekali kejadiannya waktu itu, cuma sayangnya sejak kepergian mama, papa cepat sekali terlihat tua dan selera humornya juga sudah berkurang)
Orang-orang humoris yang kedua, adalah adik-adikku. Bakat ”ngelawak”nya papa turun kesebagian besar adik-adikku, yaitu Rudi, Epi, Deny, Rio dan Ferdi. Sisanya yang 4 orang bisanya hanya tertawa dan tidak berbakat melucu alias garing (kate orang betawi), mereka itu adalah Beni, Heni, sibungsu Rahmat dan tentunya aku sendiri, sebagai kakak tertua dari sembilan bersaudara. Biasanya jika keluarga besar kami berkumpul yang akan terdengar adalah suara tawa yang berkepanjangan. Ada saja bahan pembicaraan yang bisa dibuat lucu oleh adik-adikku. Terlihat jelas perbedaannya pada diriku, aku akan selalu tertawa ceria jika berkumpul bersama adik-adikku yang suka ngebanyol itu, daripada jika aku sendirian di kost.
Orang humoris ketiga adalah Daeng. Sebelum menikah, tadinya aku mengira calon suamiku sama seriusnya dengan diriku, tapi ternyata dia juga seorang pelawak amatiran. Bukannya aku mau memamerkan suamiku yang baik hati ini, tapi kenyataannya dia memang suami yang lucu dan menyenangkan. Dulu ketika masih kerja, aku sering kelelahan setiap pulang dari kantor atau sakit kepala karena stress akibat kerjaan kantor yang seabreg-abreg. Cape dan sakit kepala akan sirna manakala melihat ekspresi wajah atau tingkah lakunya Daeng yang sengaja dibuat lucu, kemudian akan diteruskan dengan guyonannya sampai aku tertawa.
Orang-orang humoris yang keempat yaitu sahabat-sahabatku di Makassar. Kalau sudah ngumpul, mereka ternyata suka bikin dagelan. Aku sering tersenyum geli jika mendengar mereka bercanda apalagi obrolan-obrolan ringan mereka selalu mengundang tawa. Perbedaan kultur dan bahasa tidak menjadi penghalang bagiku dalam beradaptasi, karena menurutku tipikal orang Makassar hampir sama dengan orang Palembang, mereka lugas, apa adanya dan memang pada dasarnya suka bercanda. Mudah-mudahan aku bisa meniru mereka mengisi hari-hari dengan penuh keceriaan.
5 Comments »
he..he…
Comment by orang ke 2 — May 20, 2009 @ 8:59 am
Uni Merry adalah orang yang punya karakter kuat… ( kuat ga ketularan lucu walaupun dikelilingi sama orang2 lucu
atau kuat dilucu-lucuin).
Inget dulu ya waktu masih di Jakarta, weekend adalah waktunya kakakku yang serius ini pulang kerumah kumpul sama adik-adikny buat ngendorin semua syaraf2nya setelah 5 hari kerja dikantor (itu kalau lagi tidak ke garut ya uni…).
Selalu kangen sama uni Merry… Abang Yudha sering2 bikin uni merry tersenyum sampai tertawa juga boleh… we count on you
Comment by Epi — May 21, 2009 @ 6:48 am
untuk Rudi dan Epi, he..he..juga, makacih…
Comment by meryeka — August 31, 2009 @ 6:01 am
sekilas baca problema apa yang anda alami. saya tau sulit untuk merubah sebuah karakter yang melekat pada manusia, karena itu juga bisa dikatakan anugrah terindah. so jika kita merasa demikian nikmati aja, jadi diri sendiri, and dekatlah orang2 yang merasa dirinya paling bahagia sedunia karena hidup ini indah dan berkesan dengan tulusnya hati untuk selalu8 tersenyum.
Comment by ety qomariyah — October 3, 2009 @ 7:16 am
terimakasih banyak mbak ety qomariah atas comment dan dukungannya, semoga Allah merahmatimu, amin…
Comment by meryeka — October 9, 2009 @ 6:35 am