August 31, 2009

Alkhamdulillah, hari ini Allah telah menggerakkan hatiku untuk menulis. Setelah sekian lama tidak ada satupun tulisan yang aku hasilkan. Pertanyaan dari adikku dan suami, mengenai kenapa tidak ada lagi tulisan yang baru di blogku ? Membuatku bertanya-tanya sendiri, ada apa denganku hingga bisa mandeg seperti ini ?

Bukannya tidak ada keinginan, tapi sudah kucoba beberapa kali untuk menulis, tetap saja jemariku kaku, tidak bisa menekan tuts-tuts yang ada di keyboard. Akupun berusaha mencari dan membaca teori-teori, tips dan trik untuk menulis yang kudapat dari facebook. Bahkan aku sudah mencoba menginvetaris bahan-bahan yang mungkin bisa dijadikan tulisan. Tetap saja hasilnya nihil. Aku seolah melihat ada satu gulungan besar didalam fikiranku yang terdiri dari benang-benang kusut yang sulit untuk diurai.

Aku berharap dengan membaca tulisanku,  pembaca dapat mengambil manfaat, minimal mendapatkan penghiburan yang bisa membuat tersenyum. Aku tidak ingin membuat waktu yang mereka habiskan menjadi sia-sia. Tapi harapanku itu hanyalah tinggal harapan yang semu. Aku tidak tahu apakah memang tulisanku ini bermanfaat ?

Dengan segala keterbatasan yang aku miliki, aku sangat berharap para pembaca yang membaca tulisanku dapat memberikan kritik, saran, atau ilmu penulisannya atau mungkin sharing pengalamannya dalam menulis. Sehingga dapat terwujud apa yang aku harapkan, yaitu menghasilkan tulisan yang baik dalam cara  atau gaya penulisannya, juga benar dalam kaidah-kaidah penulisan dan yang paling utama memberikan manfaat bagi yang membacanya. Jika teman-teman merasa saran atau kritik tidak memungkinkan ditulis diblog ini, bisa juga secara japri via email ke meryeka@yahoo.com. Sebelumnya saya sangat berterima kasih kepada teman-teman yang sudi meluangkan waktunya untuk membantu saya. Semoga Allah memberikan anugrah yang tak terhingga sebagai balasannya, amin………….

Ya Allah, ampuni hamba, jika didalam tulisan – tulisan hamba ada tersimpan rasa yang tidak benar, hamba hanyalah sebuah debu kotor dan hina didalam semesta lafadzMu, amin…………
 

Posted in Aktifitas Comments (3)


Jumat, 20 Maret 2009, di siang hari yang terik aku mengawali langkah kaki menuju Bandara Sultan Hasanuddin dengan doa dan pengharapan, semoga perjalananku ini dilindungi dan dirahmati Sang Maha Pengasih. Ada sedikit kekhawatiran menyelinap dalam hati, dan aku tahu rasa khawatir tersebut tidak pada tempatnya.

Bermula dari mimpi yang kualami tidak lama berselang sebelum perjalanan ini, mimpi yang aneh dan seperti nyata, hampir saja kaki ini akan beranjak dari tempat tidur jika tidak  karena kesadaranku yang mulai pulih dan menyuruhku untuk berbaring kembali. Aku terbangun karena dipanggil oleh mama mertuaku (dalam mimpi), beliau bilang bahwa diruang tamu telah berkumpul keluarga besarku, dan sangat  jelas kudengar mereka bicara satu sama lain, begitu gaduhnya. Aku mengenali ada suaranya papa, nenek, adik-adikku, om dan tante. masih dalam kondisi yang sangat mengantuk, aku berusaha berfikir dalam kegelapan malam (lampu dalam kamar memang biasa dipadamkan jika waktunya tidur), masak iya dini hari begini mereka semua datang ? Tapi suara-suara itu tidak berbohong aku mendengarnya dengan jelas. Lama-lama suara merekapun menghilang ditelan kesunyian malam.

Keesokan paginya, aku menceritakan kejadian tersebut kepada daeng, kemudian aku menghubung-hubungkannya dengan percakapan via telepon dengan adik dan nenekku yang sudah lama berlalu dan selalu mengganggu fikiranku. Apa ada peristiwa yang buruk yang terjadi dengan papa di Palembang dan nenek di Jakarta ya? Menurut informasi adikku papa saat ini sering sakit-sakitan, kemudian percakapan dengan nenek terakhir kali, beliau meminta maaf sambil menangis karena merasa “waktu”nya sudah dekat. (Memang sejak terjadi insiden kecil yang menimpa nenek-jatuh dikamar mandi dan kemudian jatuh dari kursi- kondisi beliau turun drastis)

Tidak lama berselang, sepulangnya dari kantor, Daeng menyodorkan sebuah amplop dan aku sangat terkejut karena ternyata isinya adalah tiket pesawat ke Jakarta. Aku sungguh sangat tidak mengerti apa yang ada dalam fikiran suamiku ini sampai beliau sudi membelikan tiket pesawat untukku. Menurut penuturan Daeng bahwa, kesadarannya tidak dalam kondisi “penuh” saat membeli tiket tersebut. Ketika dalam perjalanan dari kantor menuju rumah, seolah ada yangmenuntun hatinya untuk membelokkan arah motor menuju agen travel. Aku hanya terharu mendengar penuturannya itu, sungguh Daeng bukan saja suami yang memiliki toleransi yang tinggi, tapi dia juga memahami kondisi psikologis diriku. Bisa dibilang aku memang agak tertutup, dan sulit untuk menceritakan perasaan apabila sedang dilanda depresi.

Menurut Daeng lagi, ada sesuatu yang akan terjadi yang akan kujumpai “disana” dan sesuatu itu akan butuh pengorbanan yang besar. Aku mengejarnya dengan pertanyaan yg berkecamuk, “Pengorbanan apa ?” Apa ada hubungannya dengan nenek ? Dijawab daeng lagi, Saya tidak tahu pengorbanan dalam bentuk apa, yang jelas tidak ada hubungannya dengan nenek, nenek di Jakarta sepertinya baik-baik saja. Dan memang akhirnya terbukti, bahwa memang nenekku tidak dalam kondisi mengkhawatirkan, walaupun beliau masih dalam keadaan sakit.

Saat ini ketika sudah kembali dari “perjalanan singkat”ku itu (Jakarta, Bandung, Garut, Palembang) banyak sekali pembelajaran yang kuterima. Saat dimana aku mengalami lagi pengalaman menjadi seorang kakak, cucu, keponakan, sepupu, anak dan ibu bagi sibungsu. Juga perjumpaan dengan teman-teman salik, teman  SMP, teman SMEA, teman kerja waktu masih ngantor. Terutama pertemuan dengan mursyidku tercinta dan juga guru spiritualku di Garut. Kemudian kembali lagi ke Makassar untuk menjalani realita, menjalani peran sebagai istri, menantu, adik ipar dan kakak ipar. Semoga pembelajaran yang kuterima ini dapat memperkaya aku yang miskin ilmu, amin……
Setelah mencoba untuk “bemetamorfosis” walau gagal, aku menyadari bahwa memang banyak sekali peristiwa yang terjadi dan wajib kusyukuri,  semua yang Allah hadirkan itu tidak sebanding dengan semua pengorbananku selama ini. Akupun sangat berterima kasih padaNya, karena melalui ucapan Daeng, sebuah puzzle dari sekian banyak puzzleku telah kutemukan. Beberapa hari yang lalu sempat kukabarkan pada Daeng mengenai hasil perenunganku ini bermula dari ucapannya saat memberikan tiket pesawat tempo hari. Dan dia bilang bahwa dia tidak ingat dan tidak pernah merasa mengatakan hal seperti itu. Ya biar saja, mungkin dia sudah lupa, tapi yang jelas aku sudah sedikit mengerti apa yang telah dihadirkanNya.

Posted in Renungan No Comments »