October 20, 2009

Hari ini, kenangan itu menghampiri, tepat lima tahun yang lalu, mantan pacarku (baca:suami) telah menunjukkan eksistensinya,  aku merasa kagum dengan jubah keberanian yang dia kenakan saat itu. Telah setahun lebih dia menghilang dibawa angin (atau memang Allah sengaja menyimpan sosoknya), dan kemudian hadir pada waktu yang tepat, saat dimana aku telah siap dalam segala hal untuk menyambut kedatangannya.

Walaupun Allah telah mengizinkannya hadir, tetap saja aku merasa gamang untuk membiarkan diriku tenggelam dalam “dunia ketertarikan”. Karena memang sudah terlalu lama aku melepaskan diri hingga terbebas dari dunia itu. Tapi ternyata Allah berkehendak lain, dengan begitu mudah TanganNya membalikkan hatiku. Butuh waktu lima hari, tidak lebih dan tidak kurang, Allah telah membuatku jatuh cinta pada sang calon pasangan jiwaku itu hanya dalam waktu lima hari. Aku heran kemana perginya nalar dan egoku yang bercokol kokoh ? Tak tanggung tanggung rasa cinta yang baru seumur kecambah itu cepat sekali menguasai diri ini.

Tentu saja ada perlawanan dari sisi hatiku yang berbeda, ketika melihat situasi semakin bertambah runyam. Kali ini, dia (sisi lain hatiku) tidak akan membiarkan pengalaman buruk 10 tahun yang lalu terulang lagi, saat dimana aku telah salah mengambil keputusan. Aku yang bodoh ini telah berani menukarkan secawan “Anggur” dengan secangkir rasa iba. Sungguh keputusan yang sangat kusesali seumur hidup, karena hingga saat ini kenikmatan “Anggur” itu tak pernah lagi kurasakan, dahagaku ini begitu panjang dan menyakitkan.

Dilema, sungguh aku berkubang dalam pusaranmu, saat itu hanya doa yang kuatur dalam lembar demi lembar kekhawatiran. Kegalauan yang mencekam, mencengkram fikiran dengan genggamannya yang begitu kuat. Ada kekhawatiran bila rasa ini tidak benar, ada ketakutan jangan-jangan Dia akan marah dan menjauhiku lagi seperti dulu, ada harapan semua orang-orang terkasih, harapan yang  berkumpul dengan pengharapanku, ada doa dan airmata milik almarhum mama yang sangat kukasihi (semoga Allah membalas semua perjuangan dan pengorbanan beliau, amin…) Mereka semua menanti keputusanku. Dilema ini saling berkejaran dengan waktu.

Kegalauanku itu tak berlangsung lama, sejak "perjumpaan" itu, delapan hari kemudian tepatnya tanggal 28 Oktober 2004, aku menerima  sms dari sang mantan pacarku itu. Sebuah doa yang sangat menyentuh, membuat gemetar hatiku hingga galaupun padam oleh air mata haru. Sebaris doanya : “Ampuni hambamu Ya Allah, sungguh aku tak pantas dibandingkan dengan segala KemuliaanMU. Sungguh………aku tak bermaksud merebut cintanya padaMu. Kumencintainya juga karena begitu cintanya aku padaMu. Ampuni kami Ya Allah……..ampuni kefakiran kami…….”

Setelah membaca smsnya itu, akupun membatin “Ya Allah, Engkaulah tujuanku selama ini, aku ridha dengan semua kehendakMu apapun itu, semoga Engkaupun ridha dengan rasa cinta yang baru kurasakan ini, sungguh aku sangat khawatir, aku berharap Engkau akan selalu menjaga dan melindungiku dan tidak menjauhiku seperti dulu lagi”.

(Dalam memori : Rabu, 20 Oktober 2004)

H.R. Bukhari dan Muslim :
”Ada 3 perkara yang apabila terdapat pada diri seseorang, niscaya dia akan merasakan manisnya iman, yaitu : Allah dan Rasul-Nya lebih dia cintai daripada yang lain; dia tidak menyukai seseorang kecuali karena Allah; dan dia tidak ingin terjerumus ke dalam kekufuran sebagaimana dia tidak ingin dilempar kedalam kobaran api neraka”

Posted in Pengalaman No Comments »