Jumat, 20 Maret 2009, di siang hari yang terik aku mengawali langkah kaki menuju Bandara Sultan Hasanuddin dengan doa dan pengharapan, semoga perjalananku ini dilindungi dan dirahmati Sang Maha Pengasih. Ada sedikit kekhawatiran menyelinap dalam hati, dan aku tahu rasa khawatir tersebut tidak pada tempatnya.
Bermula dari mimpi yang kualami tidak lama berselang sebelum perjalanan ini, mimpi yang aneh dan seperti nyata, hampir saja kaki ini akan beranjak dari tempat tidur jika tidak karena kesadaranku yang mulai pulih dan menyuruhku untuk berbaring kembali. Aku terbangun karena dipanggil oleh mama mertuaku (dalam mimpi), beliau bilang bahwa diruang tamu telah berkumpul keluarga besarku, dan sangat jelas kudengar mereka bicara satu sama lain, begitu gaduhnya. Aku mengenali ada suaranya papa, nenek, adik-adikku, om dan tante. masih dalam kondisi yang sangat mengantuk, aku berusaha berfikir dalam kegelapan malam (lampu dalam kamar memang biasa dipadamkan jika waktunya tidur), masak iya dini hari begini mereka semua datang ? Tapi suara-suara itu tidak berbohong aku mendengarnya dengan jelas. Lama-lama suara merekapun menghilang ditelan kesunyian malam.
Keesokan paginya, aku menceritakan kejadian tersebut kepada daeng, kemudian aku menghubung-hubungkannya dengan percakapan via telepon dengan adik dan nenekku yang sudah lama berlalu dan selalu mengganggu fikiranku. Apa ada peristiwa yang buruk yang terjadi dengan papa di Palembang dan nenek di Jakarta ya? Menurut informasi adikku papa saat ini sering sakit-sakitan, kemudian percakapan dengan nenek terakhir kali, beliau meminta maaf sambil menangis karena merasa “waktu”nya sudah dekat. (Memang sejak terjadi insiden kecil yang menimpa nenek-jatuh dikamar mandi dan kemudian jatuh dari kursi- kondisi beliau turun drastis)
Tidak lama berselang, sepulangnya dari kantor, Daeng menyodorkan sebuah amplop dan aku sangat terkejut karena ternyata isinya adalah tiket pesawat ke Jakarta. Aku sungguh sangat tidak mengerti apa yang ada dalam fikiran suamiku ini sampai beliau sudi membelikan tiket pesawat untukku. Menurut penuturan Daeng bahwa, kesadarannya tidak dalam kondisi “penuh” saat membeli tiket tersebut. Ketika dalam perjalanan dari kantor menuju rumah, seolah ada yangmenuntun hatinya untuk membelokkan arah motor menuju agen travel. Aku hanya terharu mendengar penuturannya itu, sungguh Daeng bukan saja suami yang memiliki toleransi yang tinggi, tapi dia juga memahami kondisi psikologis diriku. Bisa dibilang aku memang agak tertutup, dan sulit untuk menceritakan perasaan apabila sedang dilanda depresi.
Menurut Daeng lagi, ada sesuatu yang akan terjadi yang akan kujumpai “disana” dan sesuatu itu akan butuh pengorbanan yang besar. Aku mengejarnya dengan pertanyaan yg berkecamuk, “Pengorbanan apa ?” Apa ada hubungannya dengan nenek ? Dijawab daeng lagi, Saya tidak tahu pengorbanan dalam bentuk apa, yang jelas tidak ada hubungannya dengan nenek, nenek di Jakarta sepertinya baik-baik saja. Dan memang akhirnya terbukti, bahwa memang nenekku tidak dalam kondisi mengkhawatirkan, walaupun beliau masih dalam keadaan sakit.
Saat ini ketika sudah kembali dari “perjalanan singkat”ku itu (Jakarta, Bandung, Garut, Palembang) banyak sekali pembelajaran yang kuterima. Saat dimana aku mengalami lagi pengalaman menjadi seorang kakak, cucu, keponakan, sepupu, anak dan ibu bagi sibungsu. Juga perjumpaan dengan teman-teman salik, teman SMP, teman SMEA, teman kerja waktu masih ngantor. Terutama pertemuan dengan mursyidku tercinta dan juga guru spiritualku di Garut. Kemudian kembali lagi ke Makassar untuk menjalani realita, menjalani peran sebagai istri, menantu, adik ipar dan kakak ipar. Semoga pembelajaran yang kuterima ini dapat memperkaya aku yang miskin ilmu, amin……
Setelah mencoba untuk “bemetamorfosis” walau gagal, aku menyadari bahwa memang banyak sekali peristiwa yang terjadi dan wajib kusyukuri, semua yang Allah hadirkan itu tidak sebanding dengan semua pengorbananku selama ini. Akupun sangat berterima kasih padaNya, karena melalui ucapan Daeng, sebuah puzzle dari sekian banyak puzzleku telah kutemukan. Beberapa hari yang lalu sempat kukabarkan pada Daeng mengenai hasil perenunganku ini bermula dari ucapannya saat memberikan tiket pesawat tempo hari. Dan dia bilang bahwa dia tidak ingat dan tidak pernah merasa mengatakan hal seperti itu. Ya biar saja, mungkin dia sudah lupa, tapi yang jelas aku sudah sedikit mengerti apa yang telah dihadirkanNya.
Akhirnya kusadari, bahwa Allah tidak sekedar memerintahkan hambaNya untuk bersabar, bahwa salik itu tidak hanya bermain diseputar ”rasa” tapi lebih hakiki dari pada itu, yaitu ”penyikapan”. Jika aku bisa menyikapi persoalan yang Allah hadirkan, maka rasa sabar akan datang tanpa perlu diundang.
Hari ini aku yang bodoh dan faqir ini mulai belajar untuk “berterima” (istilahnya Daeng) apa yang Allah hadirkan. Lucunya butuh waktu yang begitu lama untuk bisa memahami “segitiga persoalan” (yang dulu pernah diajarkan Mas Herman). Selama ini aku hanya sekedar tahu dan tidak pernah benar-benar memahami maknanya secara utuh. Semoga Allah selalu membimbingku agar pemahaman yang baru kudapatkan ini bisa langgeng dan dapat terus kuimplementasikan, amin………..
Lagi-lagi aku terus merasa sangat bersyukur, Allah telah memberikanku seorang suami yang begitu sangat sabar dan pengertian dalam mendidik istrinya yang bengal ini. Terkadang Daeng berperan sebagai ”penasihat spiritual” dalam hari-hari yang kulewati bersamanya. Dia akan menguatkanku bila aku lemah dan mengingatkanku bila aku khilaf.
Perubahan yang terjadi pada diriku, tanpa kusadari dan telah kulakukan selama 7 bulan terakhir ini telah membuatku muak. Bagaimana tidak aktivitas yang sangat sia-sia danmudarat ini telah mencemari pikiran dan hatiku. Aktivitas ini benar-benar menjadi pembeda profesiku, aku yang dulu karyawan kantoran dan aku yang sekarang sebagai ibu rumah tangga. Dulu……dalam kesendirian, aku tidak pernah melakukannya sama sekali, sekarang paling sedikit 5 menit dari 24 jam waktu yang disediakan Allah untukku, telah kugunakan untuk menikmati aktivitas ini, tanpa beban dan tanpa takut dosa, benar – benar memuakkan. Apa memang aku harus menyalahkan profesi, seharusnya tidak, yang harus kupersalahkan adalah diriku ini yang bodoh, yang tidak bisa mencermati perubahan. Aktivitas ini harus kuhentikan atau paling tidak aku harus berusaha untuk mengurangi frekuensinya paling tidak 1 atau 2 kali dalam seminggu. Mulai hari ini, aku tidak akan terbuai lagi dengan tayangan infotainment atau gosipnya selebritis. Ya…. Allah bantulah hambamu yang lemah ini, mohon dikuatkan hati ini untuk tidak tergoda dengan tayangan – tayangan tv yang membawa mudarat, amin…….
Tak terasa kepergian babe (panggilan untuk ayah mertuaku) sudah seminggu berlalu, sejak tgl 5 Pebruari lalu beliau -seorang TNI AD- dipindah tugaskan ke Sulawesi Tenggara, Menurut kabar yang kuterima tadi pagi babe akan bertugas di Kendari selama lebih kurang 2 tahun.
Selama 6 bulan ini, aku mengenal babe sebagai orang yang mempunyai pengendalian emosi yang luar biasa, dan aku pikir hanya beliaulah sosok yang paling “tenang” dalam keluarga besarku. Ketenangan beliau dalam menghadapi setiap masalah patut diacungi jempol. Selama ini aku tidak pernah melihat beliau dalam kondisi panik atau cemas, baik itu dari ekspresi wajah ataupun dari ucapannya. Setidaknya aku melihat sikap beliau dalam menghadapi kejadian dimana 2 orang adik iparku secara bergantian diopname di Rumah Sakit.
Kusadari bahwa salah satu sifat burukku adalah sering kali cepat panik jika terjadi suatu peristiwa luar biasa, dan keterpanikanku itu sangat berlebihan. Satu contoh nyata saat terjadi peristiwa di suatu pagi, dimana papaku jatuh dari tangga, Ketika itu aku panik luar biasa melihat kepala papa yang berlumuran darah, sehingga aku lupa kalau sedang hamil. Entah karena kaget atau sibuk berlari-lari di Rumah Sakit, sorenya aku keguguran.
Seharusnya aku dapat meneladani pribadi beliau tersebut dalam kehidupanku, semestinya aku mencoba untuk dapat bersikap tenang apapun peristiwa yang dihadirkan.
Semoga Allah menjadikan ketenangan sebagai perhiasan pribadiku, amin……
Demi waktu, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan saling nasehat-menasehati dalam menatapi kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menetapi kesabaran"
teruskan membaca >